• Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Informatika UNY
  • Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Informatika UNY
  • Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Informatika UNY
  • Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Informatika UNY
  • Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Informatika UNY
  • Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Informatika UNY
  • Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Informatika UNY
  • Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Informatika UNY
Home arrow Forum Komunitas
Himanika Forum Komunitas
Welcome, Guest
Please Login or Register.    Lost Password?
Tugas Maba Ospek Elektronika FT UNY 2009 (1 viewing) (1) Guest
Go to bottom Post Reply Favoured: 0
TOPIC: Tugas Maba Ospek Elektronika FT UNY 2009
#103
Budi Romansyah (User)
Fresh Boarder
Posts: 1
graphgraph
User Offline Click here to see the profile of this user
Tugas Maba Ospek Elektronika FT UNY 2009 11 Months, 1 Week ago Karma: 0  
Elektronika

Elektronika adalah ilmu yang mempelajari alat listrik arus lemah yang dioperasikan dengan cara mengontrol aliran elektron atau partikel bermuatan listrik dalam suatu alat seperti komputer, peralatan elektronik, termokopel, semikonduktor, dan lain sebagainya. Ilmu yang mempelajari alat-alat seperti ini merupakan cabang dari ilmu fisika, sementara bentuk desain dan pembuatan sirkuit elektroniknya adalah bagian dari teknik elektro, teknik komputer, dan ilmu/teknik elektronika dan instrumentasi.

Alat-alat yang menggunakan dasar kerja elektronika ini biasanya disebut sebagai peralatan elektronik (electronic devices). Contoh peralatan/ piranti elektronik ini: Tabung Sinar Katoda (Cathode Ray Tube, CRT), radio, TV, perekam kaset, perekam kaset video (VCR), perekam VCD, perekam DVD, kamera video, kamera digital, komputer pribadi desk-top, komputer Laptop, PDA (komputer saku), robot, smart card, dll.[/b]
sitem Pendidikan di Univeritas Negeri Yoygakarta menggunakan pendidikan berkarakter,

Apa Itu Karakter?
*Menurut Jakoep Ezra, MBA, CBA, seorang ahli /Character/, "Karakter
adalah kekuatan untuk bertahan dimasa sulit". Tentu saja yang dimaksud
adalah karakter yang baik, solid, dan sudah teruji. Karakter yang baik
diketahui melalui "respon" yang benar ketika kita mengalami tekanan,
tantangan & kesulitan.

Karakter yang berkualitas adalah sebuah respon yang sudah teruji
berkali-kali dan telah berbuahkan kemenangan. Seseorang yang
berkali-kali melewati kesulitan dengan kemenangan akan memiliki kualitas
yang baik. Tidak ada kualitas yang tidak diuji. Jadi jika ingin
berkualitas, tidak ada cara yang lebih ampuh kecuali 'ujian'. Ujian bisa
berupa tantangan, tekanan, kesulitan, penderitaan, hal-hal yang tidak
kita sukai. Dan jika kita berhasil melewatinya, bukan hanya sekali tapi
berkali-kali maka kita akan memiliki kualitas tersebut.

Karakter berbeda dengan kepribadian dan temperamen. Kepribadian adalah
respon kita atau biasa disebut etika yang kita tunjukkan ketika berada
di tengah-tengah orang banyak, seperti cara berpakaian, berjabat tangan,
dan berjalan. Temperamen adalah sifat dasar kita yang dipengaruhi oleh
kode genetika orang tua, kakek nenek, dan kakek buyut dan nenek buyut
kita. Sedangkan karakter adalah respon kita ketika sedang 'diatas' atau
ditinggikan. Apakah kita putus asa, sombong, atau lupa diri. Bentuk
respon itulah yang kita sebut karakter.

Karakter terbentuk dengan dipengaruhi oleh paling sedikit 5 faktor,
yaitu: temperamen dasar kita (dominan, intim, stabil, cermat), keyakinan
(apa yang kita percayai, paradigma), pendidikan (apa yang kita ketahui,
wawasan kita), motivasi hidup (apa yang kita rasakan, semangat hidup)
dan Perjalanan (apa yang telah kita alami, masa lalu kita, pola asuh dan
lingkungan).

Karakter yang dapat membawa keberhasilan yaitu empati (mengasihi sesama
seperti diri sendiri), tahan uji (tetap tabah dan ambil hikmah
kehidupan, bersyukur dalam keadaan apapun, dan beriman (percaya bahwa
Tuhan terlibat dalam kehidupan kita). Ketiga karakter tersebut akan
mengarahkan seseorang ke jalan keberhasilan. Empati akan menghasilkan
hubungan yang baik, tahan uji akan melahirkan ketekunan dan kualitas,
beriman akan membuat segala sesuatu menjadi mungkin.

Masih menurut Bapak Jakoep Ezra, MBA, CBA, Karakter dibentuk tidak
diciptakan, harus melalui proses. Benar ada karakter dasar yang memuat
kekuatan dan kelebihan kita. Untuk mengembangkan karakter, diperlukan
*pendidikan karakter*. Kita tidak dapat bertumbuh sendiri dalam karakter
yang baik. Perlu seorang pembina, /coach/, mentor yang mengarahkan dan
memberitahukan kekeliruan dan kelemahan-kelemahan karakter kita.

*Bagaimana menciptakan masyarakat yang berkualitas karakter?
*Cara yang paling mudah adalah, pertama untuk masyarakat kalangan bawah
dan anak-anak diadakan keteladanan dan pendidikan karakter. Misalnya
para pimpinan harus memberikan contoh-contoh teladan dalam berbuat
kebajikan kepada rakyat, sehingga rakyat terajak untuk berbuat baik
dengan suka rela dan pada akhirnya mereka akan berkarakter baik sebagai
wujud contoh teladan dan ketaatan kepada pimpinan.

Sedangkan bagi anak-anak belum dewasa (dibawah umur 18 tahun) pendidikan
karakter adalah solusi yang mujarab yang dapat diharapkan akan mengubah
prilaku negatif ke fositif. Pertama kurangi jumlah mata pelajaran
berbasis kognitif dalam kurikulum-kurikulum pendidikan TK, dasar,
menengah atau menengah sehingga sesuatu yang hanya menjadi beban siswa
berkurang. Karena pendidikan intelektual (kognitif) yang berlebihan akan
memicu kepada kekerasan dan kenakalan remaja. Seharusnya Pemerintah NAD
tidak perlu terjebak dengan ephoria Ujian National, karena secara
subtansi ujian tersebut lebih banyak menyebabkan kekerasan kepada anak
didik dan penyelewengan pendidik terhadap karakter yang baik, seperti
membocorkan jawaban, mengajari anak untuk berbohong dan lain-lain.

/Kedua/, setelah dikurangi beberapa pelajaran kognitif, tambahkan materi
pendidikan karakter. Materi pendidikan karakter tidak identik dengan
mengasahkan kemampuan kognitif, tetapi pendidikan ini adalah mengarahkan
pengasahan kemampuan affektif. Maka metode pengajaran pelajaran karakter
ini adalah dilakukan dengan cerita-cerita keteladan seperti kisah-kisah
keteladan Nabi-nabi, pahlawan-pahlawan Islam, dunia, nasional ataupun
lokal. Cara lain yang dianggap baik dilakukan adalah dengan /contextual
learning/, meskipun tidak resmi, tidak dalam kelas, anak-anak dicontohi
berahklak baik dengan langsung diperlihakkan oleh tindakan-tindakan
seluruh pendidik dalam suatu institusi pendidikan, dan inilah cara yang
terbaik.

Adapun bagi masyarakat kelas atas; penguasa, pimpinan, perubahan
karakter mereka kearah yang lebih baik dapat dilakukan dengan penegakan
hukum yang pasti dan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Syariat Islam
adalah senjata ampuh itu hal ini, maka bidikan qanun itu kepada mereka
koruptor-koruptor lebih dulu dari kepada kelas bawah yang tidak berdaya.

*Karakter penting bagi pembangunan peradaban?*

Secara fisik, harus diakui bahwa hasil alam di Aceh melimpah ruah,
mestinya hasil alam itu menunjang pembangunan peradaban yang tinggi,
namun kenyataannya bencana dan malapetaka bagi manusia yang menghuninya.
Energi tambang yang melimpah ruah telah memicu timbulnya konflik,
kekayaan hutan yang begitu kaya (diperkirakan jenis tumbuh-tumbuhan
dunia berada di Leuser) dan ini merupakan peninggalan satu-satunya yang
masih tersisa yang penting untuk dilestarikan) habis di tebang dan
hasilnya malah menyebabkan banjir yang membuat warga mengungsi. Walhasil
segala kekayaan alam itu tidak membawa untung bagi pembangunan
peradaban. Malah sebaliknya malapetaka.

Secara intelektual, sesuai dengan hasil pengamatan peneliti dalam
belajar dan berkunjung, meskipun jumlah cendekiawan di negara-negara
maju seperti Malaysia, Thailand, Abu Dhabi, Arab Saudi, Qatar, Maroko
dan lain-lain tidaklah jauh berbeda dengan jumlah dan kualitas
cendikiawan di Aceh. Artinya perbedaan itu tidaklah signifikan. Namun
demikian mereka telah maju beberapa langkah kedepan dan hal itu membuat
peradaban mereka lebih tinggi dari pada peradaban kita di Aceh atau
Indonesia sekalipun.

Dari kenyataan di atas dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa, hasil alam
yang melimpah-ruah, kecerdasan intelektual bukanlah sebab mendasar dalam
membangun peradaban. Maka satu-satunya alasan yang rasional dan
universal adalah faktor /character/. Dikatakan rasional karena memang
sifat-sifat masyarakat yang baik menjadi alasan mendasar demi
terwujudnya karya-karya yang berguna untuk melahirkan peradaban.
Disamping rasional, peran mendasar /character/ dalam membangun peradaban
juga dibuktikan oleh empiris, karena memang kanyataan bahwa dimana saja
masyarakat yang berkualitas baik, mereka dapat membuktikan penciptaan
peradaban-peradaban megah sebagai fakta sejarah.

Dikakatakan universal, adalah /character/ baik dapat dimiliki oleh
setiap masyarakat tanpa dibatasi status sosial, kaya- miskin, pemimpin
dan rakyat, sehingga semuanya memilik peluang untuk berbuat. /Character/
sosial juga dapat dimiliki universal masyarakat, baik masyarakat yang
tinggal di negeri yang miskin sumber daya alamnya maupun negeri yang
kaya sumber alam dan juga dapat dimiliki oleh masyarakat yang
intelektualnya rendah begitu juga yang intelektualnya tinggi. Tetapi
sebaliknya kecerdasan intelektual dan sumber daya alam tidak bisa
dimiliki oleh individu dan masyarakat. Buktinya, banyak peradaban telah
dibangun di tempat-tempat yang bervariasi, baik di tempat yang miskin
sumber daya alamnya ataupun kaya, juga oleh orang yang dikenal cerdas
intelektualnya ataupun tidak.

Contoh sederhana, kita tercengang dengan Mbah Waras, seorang yang tidak
pernah sekolah, tidak bisa berbahasa Indonesia, tapi dapat memberi
contoh teladan karakter yang baik dalam berbuat jujur. Ceritanya berawal
dari pembagian ganti rugi dari PT. Lapindo untuk korban lumpurnya. Ganti
rugi untuk keluarga Mbah Waras ditetapkan Rp. 285 juta. Pembayaran
pertama diberikan 20%, jadi uang yang diterima sementara adalah Rp. 56
juta. Namun apa yang terjadi ? Rekeningnya membengkak menjadi 429 juta!,
Mbah Waras malah kebingungan lalu melaporkan hal itu kepada pendamping
yang kemudian bersama-sama ke kantor Lapindo. Dalam acara news dotcom di
metro TV, ketika ditanya apa yang mendasari Mbah Waras mengembalikan
uang ratusan juta itu? Jawabnya dengan lugu dan dalam bahasa Jawa
(karena dia tidak bisa bahasa): "/Kulo wedi dosa, Pak, niku sanes hak
kulo/." ("/Saya takut dosa, Pak, itu bukan hak saya/".

Luar biasa. Mbah Waras yang bukan orang sekolahan, bukan pejabat yang
mengemban amanah rakyat, tapi dia lebih punya hati nurani daripada
kebanyakan pejabat saat ini yang didominasi mental korup. Apalagi
nama-nama pembohong rakyat alias koruptor, adalah orang-orang yang
berpendidikan tinggi, bahkan teungku atau ulama sekalipun.

Dari tiga dasar terwujudnya peradaban; potensi intelektual, kekayaaan
alam, dan /character/ positif, satu-satunya alasan yang dapat diterima
adalah /character/ masyarakatlah yang merupakan sebab yang mendasar
terhadap ada atau tidak adanya peradaban. Artinya ketika mayoritas
/character/ masyarakat positif, maka peradaban dapat dibangun dengan
baik dan sukses, sebaliknya jika mayoritas /character/ masyarakat adalah
negatif maka /character/ negatif tadi akan menjadi hambatan besar
sehingga mengakibatkan tidak dapat dibangun peradaban apapun, karena
tiada fondasi tempat dibangun peradaban itu. Adapun faktor kecerdasan
intelektual, sumber daya alam yang melimpah dan lain-lain adalah sebagai
faktor utama yang tidak mendasar bagi dibangunnya peradaban.

Suatu masyarakat akan sukses mengapai kemajuannya jika mayoritas
masyarakatnya berkarakter positif, sebaliknya jika mayoritas masyarakat
berkarakter negatif, maka dapat dipastikan masyarakat itu tidak bisa
maju. Hal ini dikarenakan suatu masyarakat yang berkharakter positif
sudah memiliki modal dasar untuk mengapai kemajuan, seperti sifat jujur,
mandiri, bekerja-sama, patuh pada peraturan, bisa dipercaya dan
lain-lain. Sifat-sifat positif diatas memastikan suatu masyarakat bisa
bekerja sama, dipercaya, mementingkan kepada orang lain, bisa diatur,
bila hal tadi memungkinkan dilakukan dalam masyarakat maka secara pasti
sebuah peradaban dapat dibangun.

Sebaliknya masyarakat yang mayoritas berkarakter negatife maka
masyarakat ini tidak mampu membangun peradaban, apalagi menjadi
masyarakat yang berperadaban tinggi. Karena kharakter negative yang
mereka lakukan menghambat bekerja-sama antara internal dan eksternal,
tidak dapat dipercaya, begitu juga tidak rajin, tidak punya etos kerja
dan lain-lain yang akan membuat pembangunan peradaban itu mustahil
tercapai!
 
Report to moderator   Logged Logged  
  The administrator has disabled public write access.
      Topics Author Date
    thread link
Tugas Maba Ospek Elektronika FT UNY 2009
Budi Romansyah 2009/08/21 00:42
Go to top Post Reply
Powered by FireBoardget the latest posts directly to your desktop
Copyright © 2009 Himanika FT UNY. All right reserved
Web Development and Design by Jersey Bali Production | Korniawan Prabowo
Old Himanika Website | Fakultas Teknik UNY | Official Website UNY | Kontak Administrator